warning: ini post curhat. gue cm mau curhat. and i will make this post with random grammar and vocab, bcs i dont even care
pernah ditinggalin? gue juga gatau ini maksut gue dalam konotasi atau dalam arti sebenarnya. yatapi ngerti kan maksut gue "ditinggalin" itu apa, gimana, ngerti aja plis.
kalo pernah, berapa kali? sama siapa aja? setelah deket berapa lama?
gini ya rasanya tenyata. sering sih denger cerita2 ttg ditinggalin gitu, tapi gakebayang bakal segininya. masalahnya, pasti kalian 'ditinggalin' after a, lumayan, long time together, entah sebagai apa statusnya, intinya orang biasanya bilang 'ditinggalin' setelah mereka punya moments dong ya sm si 'yang ninggalin', after all this time you guys talk, sharing cerita, sharing laugh, atau gombal to each other. and when s/he suddenly go with or w/o explanation, barulah kalian bisa bilang "anjir gue ditinggalin". tapi it's worth it buat bilang gitu, i think you already have right buat bilang gitu, krn udah ada sesuatu yg kalian bagi brg2, entah itu cerita, candaan, ketawa, atau malah waktu.
tapi dalam kasus gue, oke ini mah kayaknya gue yg terlalu ngarep, memang gue lagi butuh banget orang buat ngertiin gue, sementara mz dokter yg satu itu bnr2 too busy to dicurhatin, gue bener2 gapunya tempat lagi buat nangis, even sedih aja gabisa, gimana mau nangis, ditambah lagi gue ulangtahun jauh dr rumah, dan tmn2 deket gue gada yg ingeettt mashaaAllah. jadi kayak semua pikiran gue, masalah gue tuh udah ketumpuk dr lamaaa dan banyakkk, smp akhirnya gak muat, gak cukup, meledaklah gue nyalahin semua orang. dan saat itu, even sahabat gue yang amat sangat gue harapkan untuk beranya, in serius way, "lo kenapa, apa yang salah disana?" itu gak nanya. nanya sih tapi gituuuu. ya sih pikiran dia udh jauuuhh lbh mature dr gue jd dia enek juga kali ngeladenin gue yg cengeng gini. dan gue kecewa. gue kecewa krn mereka gabisa ngerti, gue tau, gak seharusnya. mereka gasalah, tp i really do need someone that time jd gue bnr2 nyalahin dia "jahat banget dia. gue kira dia paham gue".
aaanndd in my titik kritis dimana f(x)''<0 yg artinya fungsi berada pada titik minimum, atau artinya i'm in my very down condition, and have no one to share apalagi understand of what really happened. tbtb ada satu manusia dateng bagaikan malaikat kemaleman. temen sma gue. cuma temen biasa. biasa banget. i even rarely talk to him. iya, dia cowok btw. berhubung tempat curhat gue tinggal twitter skrng dan penghuni twitter udh bs diitung, jadilah gue berkicau dengan penuh isak di twitter, trs tbtb dia bales mention gue yg gada hubungannya sm mention gue ke dia, tp malah naggepin curhatan gue "gak mau cerita-cerita apa gitu nih?" yaa gue bales aja "lg capek. would u cheer me up?" "free call mau ga? hahaha" boom. dia menawarkan dirinya. dia yg cuma temen biasa, ngobrol sekenanya doang, tbtb bersedia dengan ikhlasnya br balik ngampus jam 11 malem abis ngejar deadline, nawarin diri buat dengerin gue cerita, actually nangis sih, krn gue kebanyakan nangisnya. dia bukan siapa2, tp dia mau dengerin gue nangis, dia gapaham jadi anak rantau yg cm bisa pulang pas lebaran sm liburan, tapi dia mau ngasih solusi. gila dia hero bgt. "hey, jangan nangis dongg. gaboleh nangis ahh" gue.butuh.digituin. that time, gue butuh banget kalimat itu, dan itu dia yg bilang, gue sama sekali gapernah kepikiran bakal nangis di kuping dia, bahkan chat aja hampir bnr2 gapernah.
tau gak si, kayak abis jatoh, jauuuuhhhh bgt. ancur nih badan gue ancur. gada yg tau gue jatoh, tbtb dia lewat, ngelongok dikit, trs langsung bawa ambulance buat gue. we are not that close, bnr2 kenal sm dia cm kenal doanggg. tp dia mau peduli nanya gue kenapa. mau dengerin gue nangis sampe jam 1 pagi. dan di akhir telfon dia bahkan bilang "kalo ada yg perlu diceritain, tapi gada orang yang sempet, gue mau kok dengerinnya"
but
poof!
suddenly he dissapeared.
ilang. gatau kemana. kayak superman yg br kerja sehari trs pensiun. kyk orang yg assalamualaikum depan rumah, ngetok, begitu dibukain pintu eh pergi.
tapi dia gak salah. ekpektasi yg bikin gue begini. euforia dapet hero yg bikin gue begini.
dia manusia biasa, yang baik. mau dengerin temennya sedih, mau bantu temennya susah. dia gasalah. dia gabut aja. iseng. isengnya baikin orang, ngehibur orang. baik kan.
tapi guenya ke gr an. i thought he would stay. be my 911. but not. he's not.
iya bego emang kan.
mau bilang 'ditinggal', tp kita gapernah bareng2. mau nyebut ini 'kehilangan', tapi dia emg gapernah ada. mampir doang. masa orang mampir yg pergi dibilang ilang, kan enggak. jadi gue juga gatau ini tuh apa. sedih aja, orang yg pernah berhentiin nangis gue, eh gak ada. padahal f(x)'' gue masih <0. sedih gue blm tuntas. tapi yaudahlah ya, bukan tugas dia juga nenangin gue nangis.
tapi semenjak itu, gue selalu minta sama Allah supaya dia senantiasa dipeluk hal-hal baik, dilindungi, dimudahkan, dibahagiakan.
makasih ya, even cuma sehari, jasa lo berharga, and u will always be my hero.
love never hurts
expectation does.
Saturday, 1 October 2016
Sunday, 25 September 2016
Kepada: Siswa Kebanggaan 9-1
Aku suka kamu dari dulu, sejak rok seragamku masih biru, dan
baru ada dua garis di dasiku. Hari itu, aku di depan kelasku―kelas
terujung di lantai teratas―terpaku melihatmu berlalu. Ku ikuti langkahmu hingga
kamu menghilang dibalik pintu, “Kakak itu sembilan-satu” gumamku. Kelas
berujung angka satu, dimana siswa cerdas terpilih berada disitu. Sejak hari
itu, ku putuskan untuk menjatuhkan hati ini padamu.
Tahun kedua putih biru ku, kuhabiskan dengan mengagumimu dari
jauh, menunggumu kembali dari membeli makan siangmu, tawa lepasmu menjadi
pemandangan yang selalu kutunggu. Seiring waktu berlalu, aku mengetahui satu
per satu hal-hal kecil namun berharga tentangmu.
Singkat cerita, hari itu tiba, Ujian Nasionalmu di depan mata,
pendalaman materi selesai pada pukul tiga, tak jarang aku menunggu dengan
setia, walau kamu yang ditunggu tidak merasa. Tiga hingga enam Mei 2011, empat
hari tak henti aku berdoa, agar dimudahkan untukmu segalanya.
―
Aku melihatmu duduk di depan laboratorium IPA, hanya sendiri.
Menunggu satu lembar surat keterangan lulus untuk dicap tiga jari. Di lantai
tiga―seperti biasanya―aku melihatmu hampir tanpa berkedip, sadar bahwa hari ini
terakhir kamu disini. Dan itu terakhir kalinya aku melihatmu hingga kisah ini
ditulis kembali.
Lalu kamu pergi, resmi lulus dari gedung biru ini, tidak lagi
memakai putih biru berdasi, melanjutkan ke sekolah yang selama ini menjadi
mimpi. Tapi aku masih disini, dan kisah ini tidak akan berakhir disini.
Hari pembagian rapor kenaikan kelas, aku berhasil menjadi bagian
dari sembilan-satu. Sukses menempati kursimu tahun lalu. “Kak, ini kelasmu dulu”,
gumamku
―
Hingga akhirnya, seragamku menjadi abu-abu―kini tanpa dasi. Kisah
tentang cinta sendirian ini berlanjut tanpa ada niat berhenti. Walau tidak tau
apa kabarmu, hati ini tetap gigih menyiksa dirinya sendiri.
Lalu suatu hari, aku mengetahui harimu telah baru, hatimu telah
memilih seseorang sebagai tempatnya jatuh. Pendaratan empuk yang sempurna,
gadis cantik itu menyambut hatimu dengan utuh. Sebaliknya, milikku hancur tak
bertubuh.
Setengah dari jiwaku hampir mati, walau begitu aku tetap tidak mau
pergi. “Asalkan dia bahagia” begitu ucap hati.
Tapi, apa cinta yang hebat harus bertahan sampai sekarat?
Percayalah, itu jauh dari cukup untuk membuat aku menyerah.
Kemudian aku mengambil keputusan yang salah, jatuh di tempat
paling salah. Memilih seseorang dengan salib dihatinya.
Aku meninggalkan cintaku yang sendirian itu, mencoba jalan lain,
dan berakhir tersasar. Aku akhirnya mengikuti setitik demi setitik cahaya hati
yang menyerupai menara suar. Aku mengikuti cahaya yang salah kemudian tersesat,
aku mencarimu lagi dan membebaskan diri dari dia yang hanya sesaat.
Aku putuskan untuk tidak lagi menyerah atasmu.
―
Kita mengobrol hanya sekali dalam satu tahun, aku berani menyapamu
hanya pada satu hari khusus dalam satu tahun, hanya pada saat kamu ulang tahun.
Namun itu lebih dari cukup untuk memuaskan angan yang mengalun.
―
Tak ada yang dapat aku lakukan untukmu. Hanya sekedar doa biasa
disetiap lima waktuku. Atau lantunan permohonan untukmu disepertiga malamku.
Yang pasti diikuti isakan dan derai sebagai bukti rindu. Hanya itu. Sebab lisan
ini tak pantas untuk mengutarakannya padamu, diri ini hina untuk merengkuh, dan
raga ini terlalu jauh darimu.
Kamu memang jauh, namun doaku akan selalu mengetuk pintu
kamarmu.
͞
Sampai tulisan ini selesai dibuat, kamu masih tidak tau tentang
ini. Bahwa kamu masih dikagumi, masih satu-satunya untuk diri ini, menempati
singgasana termewah dalam tahta hati. Biarkan aku memupuk sendiri perasaan ini,
tumbuh indah dengan suci, tanpa perlu diketahui sang empunya benih.
Namun jika suatu saat kamu tau, tolong jangan paksa aku berhenti,
jangan kamu bunuh rasa ini dengan keji. Dengan siapapun akhirnya kamu
bersanding nanti, aku sudah terlatih untuk ikhlas, tanpa perlu memelas.
Aku rindu, kak. Andai kamu tau.
Subscribe to:
Posts (Atom)