Sunday, 25 September 2016

Kepada: Siswa Kebanggaan 9-1

Aku suka kamu dari dulu, sejak rok seragamku masih biru, dan baru ada dua garis di dasiku. Hari itu, aku di depan kelasku―kelas terujung di lantai teratas―terpaku melihatmu berlalu. Ku ikuti langkahmu hingga kamu menghilang dibalik pintu, “Kakak itu sembilan-satu” gumamku. Kelas berujung angka satu, dimana siswa cerdas terpilih berada disitu. Sejak hari itu, ku putuskan untuk menjatuhkan hati ini padamu.

Tahun kedua putih biru ku, kuhabiskan dengan mengagumimu dari jauh, menunggumu kembali dari membeli makan siangmu, tawa lepasmu menjadi pemandangan yang selalu kutunggu. Seiring waktu berlalu, aku mengetahui satu per satu hal-hal kecil namun berharga tentangmu.

Singkat cerita, hari itu tiba, Ujian Nasionalmu di depan mata, pendalaman materi selesai pada pukul tiga, tak jarang aku menunggu dengan setia, walau kamu yang ditunggu tidak merasa. Tiga hingga enam Mei 2011, empat hari tak henti aku berdoa, agar dimudahkan untukmu segalanya.
Aku melihatmu duduk di depan laboratorium IPA, hanya sendiri. Menunggu satu lembar surat keterangan lulus untuk dicap tiga jari. Di lantai tiga―seperti biasanya―aku melihatmu hampir tanpa berkedip, sadar bahwa hari ini terakhir kamu disini. Dan itu terakhir kalinya aku melihatmu hingga kisah ini ditulis kembali.

Lalu kamu pergi, resmi lulus dari gedung biru ini, tidak lagi memakai putih biru berdasi, melanjutkan ke sekolah yang selama ini menjadi mimpi. Tapi aku masih disini, dan kisah ini tidak akan berakhir disini.

Hari pembagian rapor kenaikan kelas, aku berhasil menjadi bagian dari sembilan-satu. Sukses menempati kursimu tahun lalu. “Kak, ini kelasmu dulu”, gumamku

Hingga akhirnya, seragamku menjadi abu-abu―kini tanpa dasi. Kisah tentang cinta sendirian ini berlanjut tanpa ada niat berhenti. Walau tidak tau apa kabarmu, hati ini tetap gigih menyiksa dirinya sendiri.
Lalu suatu hari, aku mengetahui harimu telah baru, hatimu telah memilih seseorang sebagai tempatnya jatuh. Pendaratan empuk yang sempurna, gadis cantik itu menyambut hatimu dengan utuh. Sebaliknya, milikku hancur tak bertubuh.
Setengah dari jiwaku hampir mati, walau begitu aku tetap tidak mau pergi. “Asalkan dia bahagia” begitu ucap hati.
Tapi, apa cinta yang hebat harus bertahan sampai sekarat?
Percayalah, itu jauh dari cukup untuk membuat aku menyerah.
Kemudian aku mengambil keputusan yang salah, jatuh di tempat paling salah. Memilih seseorang dengan salib dihatinya.
Aku meninggalkan cintaku yang sendirian itu, mencoba jalan lain, dan berakhir tersasar. Aku akhirnya mengikuti setitik demi setitik cahaya hati yang menyerupai menara suar. Aku mengikuti cahaya yang salah kemudian tersesat, aku mencarimu lagi dan membebaskan diri dari dia yang hanya sesaat.
Aku putuskan untuk tidak lagi menyerah atasmu.

Kita mengobrol hanya sekali dalam satu tahun, aku berani menyapamu hanya pada satu hari khusus dalam satu tahun, hanya pada saat kamu ulang tahun. Namun itu lebih dari cukup untuk memuaskan angan yang mengalun.

Tak ada yang dapat aku lakukan untukmu. Hanya sekedar doa biasa disetiap lima waktuku. Atau lantunan permohonan untukmu disepertiga malamku. Yang pasti diikuti isakan dan derai sebagai bukti rindu. Hanya itu. Sebab lisan ini tak pantas untuk mengutarakannya padamu, diri ini hina untuk merengkuh, dan raga ini terlalu jauh darimu.

Kamu memang jauh, namun doaku akan selalu mengetuk pintu kamarmu. 

͞
Sampai tulisan ini selesai dibuat, kamu masih tidak tau tentang ini. Bahwa kamu masih dikagumi, masih satu-satunya untuk diri ini, menempati singgasana termewah dalam tahta hati. Biarkan aku memupuk sendiri perasaan ini, tumbuh indah dengan suci, tanpa perlu diketahui sang empunya benih.

Namun jika suatu saat kamu tau, tolong jangan paksa aku berhenti, jangan kamu bunuh rasa ini dengan keji. Dengan siapapun akhirnya kamu bersanding nanti, aku sudah terlatih untuk ikhlas, tanpa perlu memelas.


Aku rindu, kak. Andai kamu tau.

No comments:

Post a Comment